Jonno dan Jenni ku

Hari ini, ketika ku baru saja pulang dari Solo tadi pagi, aku mengalami shock yang cukup berat. Dua makhluk imut yang ku sayangi raib dari kandangnya. Siapakah mereka? Mereka adalah Jonno dan Jenni.

Menurut beberapa saksi yang dapat dimintai keterangan atas hilangnya dua hamster mungil ini adalah disebabkan oleh kucing garong yang memangsa mereka. Awal dari raibnya dua makhluk ini adalah bermula dari Abas, saksi, yang memberi makan mereka. Menurut dia, ketika mereka diberi makan, tidak ada reaksi sehingga dikira sedang tidur, karena biasanya kalo dikasih makan pasti langsung dimakan. Lalu beberapa saat kemudian diliat kembali dan ternyata tetap tidak ada reaksi. Lalu Abas memastikannya, dan ternyata mereka berdua raib..raib..raib..

Menurut saksi mata yang lain, yaitu Pak Rosyid, beliau mengatakan bahwa tercium bau amis ketika sedang memeriksa rumah yang sedang di cat. Dan diperkirakan saat itulah hamster-hamster mungilku raib digondol kucing garong.

Aku pun hanya bisa menatap kandang yang kosong. Mencoba mengingat kembali kenangan-kenangan indahku bersama Jonno dan Jenni.

Wahai sobat-sobat kecilku, maafkan Miqdam jikalau banyak salah terhadap kalian, jikalau dalam merawat kalian tidak seperti ibu kalian, maafkan Miqdam yang tidak dapat berjumpa disaat-saat terakhir keraiban kalian. Dan sekarang tidak ada yang menemaniku lagi ketika sedang mengetik…

Selamat Jalan wahai Sobat-s0bat kecil, aku akan selalu merindukanmu…

21/Nov/2009

Belajar dari Sholahuddin al Ayyubi

Al Aqsha diserang, umat Islam diam seribu bahasa. Kemana para mujahid? Ada apa dengan kaum Muslimin? Tidak kah merasa terusk, seperti terusiknya pendeta Kristen bernama Peters Amiens, tatkala Baitul Maqdis dianggap telah dikuasai umat Islam pada tahun 1094. Sampai-sampai ia membangkitkan semangat raja-raja Kristen di Eropa agar segera merebut tanah suci itu, lalu menduduki dan menguasainya.

Diprovokasinya Kaisar Elexius Komeninus dari Bynzantium (Konstantinopel) oleh Peter Amiens, agar waspada terhadap kemungkinan kekuasaan Islam Saljuk menguasai imperium Konstantin yang besar itu. Kaisar pun terprovokasi, lalu menyampaikan permohonan kepada Paus Urbanus II agar segera mengeluarkan perintah suci kepada raja-raja di benua Eropa untuk mengumpulkan kekuatan, merebut baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin. Ringkasnya, Paus mengabulkan permohonan itu. “Deus La Volts” (Demikianlha kehendak Tuhan). Seperti itulah seruan “jihad suci” dari mulut sang Paus, sebagai tanda dimulainya Perang Salib.

“Fatwa” Paus yang terkenal adalah “Barangsiapa yang bersedia masuk dalam angkatan perang suci itu, akan diampunilah sekalian dosanya, kecil ataupun besar.” Perang Salib I (1097-1099) pun diberi keistimewaan sebagai penebus dosa. Prancis, Burgundi dan Normandi mendaftarkan diri sebagai “relawan jihad”. Mereka dipimpin oleh raja dan kaum bangsawan, seperti Godfrey dari Burgundi, Duke dari Loftharingen dan sebagainya. Hampir 100 ribu tentara yang tergabung dalam pasukan itu.

Dari konstantinopel, mereka melancarkan serangan ke negeri-negeri Islam, lalu Palestina sebagai tujuan akhir. Pada tahun 1099M (492H), terkepunglah tanah suci Palestina dengan kekuatan 40 ribu tentara yang tersisa, sedangkan tentara Mesir yang mempertahankan kota hanya seribu orang saja. Setelah pengepungan selama 15 hari jatuhlah pertanahan kota dan masuklah tentara Salibh ke Baitul Maqdis (Palestina). Saat Palestina ditaklukkan kaum salib, umat Islam mendapatkan perlakuan keji yang sulit dilupakan. Ahli-ahli sejarah perang salib mengakui terjadinya kebiadaban itu: orang Islam dipaksa menjatuhkan diri dari puncak benteng, dibakar hidup-hidup, ditarik ke jalan raya dengan kuda-kuda perang mereka sampai mati, kemudian mayatnya ditumpuk seperti menimbun sampah.

Ini sekedar gambaran, bahwa kaum Salibis saja begitu terusik ketika Baitul Maqdis yang diklaim sebagai tanah suci mereka, lalu dengan segera dibentuk angkatan perang salib hingga tiga gelombang. Seharusnya, kaum Muslimin diseluruh negeri bangkit, leibh bersemangant untuk tampil sebagai pembela al Aqsha.

Seruan jihad itu bukan tidak pernah dikumandangkan kaum Muslimin. Hanya saja, keberadaan khlaifah di Baghdad di bahwa kuasa sultan-sultan Saljuk ketika itu sedemikian lemahnya, sehingga yang tinggal hanya gelas khalifahnya saja, sedangkan kekuasaannya nihil. Ada pula khlaifah Fathimiah di Mesir, tetapi tidak berdaya merebut kembali Baitul Maqdis. Saat itu, moral raja-raja Islam berada di titik terendah, mereka berpecah belah, cakar mencakar berebut kekuasaan. Kebencian itu amat mendalam diantara mahzab Sunni dan Syi’ah. Akibatnya, mereka tidak peduli Baitul Maqdis dikuasai agama lain.

Dalam perang Salib II tampillah Nurudin, Asaduddin, dan Shalahuddin, yang tentaranya terdiri dari bangsa Arab, Turki dan Kurdi. Kekuatan ini full menjadi satu. Pasukan Muslim ini berhasil mengahalau kaum salibis di Mesir. Tahukah, bagaman kiat Shalahuddin al Ayyubi (Saladin) merebut Baitul Maqdis?

Shalahuddin berkeyakinan, untuk berjihad memerangi pasukan salib, ia harus mempersatukan Mesir dan Suria (Syam) terlebih dahulu. Sebab, jika pecah sulit bagi pasukan Islam mengusir musuh. Mesir yang sebelumnya diperintahkan kerajaan Fathimiyah yang berfaham Syi’ah, dan Syam berpaham Sunnah. Oleh Shalahuddin disatukan Mesir dan Syam dengan mahzab Syafi’I, sehingga keduanya menjadi sejalan dibawah komando Shalahuddin. Yang menarik, Shalahuddin pun memerangi kaum Ismailiah atau Bathiniah yang sangat merugikan Islam.

Mesir dan Syam pun tunduk di bawah titah Shalahuddin. Sejumlah ekspedisi militer dilakukan sebagai tahapan merebut kembali Baitul Maqdis. Ketika itu Shalahuddin memerintahkan abangnya Tauran Syah prig menaklukan Yaman, termasuk Hijaz (Makkah-Madinah) lebih dulu takluk di bawah Mesir yang dipimpin oleh Shalahuddin.

Pada tahun 1175, atas permintaan Shalahuddin, khalifah di Baghdad mengeluarkan keputusan: mengakui Shalahuddin sebagai penguasa bagi Mesri, Maghribi, Naubah, Jazirah Arab bagian Barat, Palestina dan Syiria tengah. Dari pengalamannya bertempur, Shalahuddin mempelajari penyebab keruntuhan dan kekalhan Islam selama ini, diantaranya adalah perpecahan para raja dan pemimpinnya. Yang satu ingin kejatuhan yang lain, agar berkuasa sendiri. Sebab lainnya adalh akibat pengkhianatan wazir di Mesir, yang sudi berhubungan rahasia dengan pihak musuh, asal mereka mendapat jaminan kekuasaan.

Mengapa Shalahuddin memerangi raja-raja Islam? Beliau yakin bahwa Amir-amir (Gubernur) ini tidak akna kuat bertahan menghadapi tentara salib, apalagi jika tidak ada kesatuan komando. Dikhawatirkan, para amir itu akan meletakkan senjatanya dan membuat perdamaian sendiri dengan musuh. Yang ada dalam otaknya adalah harta dan tahta tetap ada dalam genggamannya.

Teori perang Shalalahuddin itu terbukti di kemudian hari, ketika Raja Abdullah dari bangsa Arab, membuat perdamaian sendiri dengan opsir tinggi Inggris, saat perang sedang berkecamuk. Bukankah ini pengkhianatan. Karena itulah, Shalahuddin lebih dulu membersihkan raja-raja Arab sebelum ia menghadapi musuh sesungguhnya: Kaum Salib.

Satu hal yang menjadi factor kemenangan adalah memebangun kepribadian dari seorang pemimpin dan para mujahid. Ada kesadaraan dalam diri Shalahuddin bahwa sebelum dia mempersatukan orang lain, ia harus mempersatukan pribadinya dengan Tuhannya. Sebelum dia menyuruh orang lain berdisiplin diri, ia harus lebih dulu mendisiplinkan diri. Intinya, ia harus menundukkan dirinya sebelum menundukkan musuhnya.

Shalahuddin seperti sedang mengingatkan, yang datang ini adalah raja-raja Eropa, bukan raja sembarangan. Mereka adalah musuh yang paling kuat persenjataan dan pasukannya. Tanda salib saja bisa membangkitkan semangat juannya. “Apa arti perjuangan Islam, kalau pemimpin peperangan melawan musuh Islam itu sendiri bukan seorang Muslim sejati? Rahasia kemenangan Nabi Muhammad saw dalam segala peperangan adalah kerana kekuatan iman dan kesabaran,” demikian (alm) Buya Hamka pernah berujar.

Kepribadian dan keshalihan. Itulah pelajaran pertama yang harus dimiliki tentara Allah. Shalahuddin aalah teladan bagi pasukannya. Shalatnya selalu berjamaah, puasa setiap Senin-Kamis tak pernah ditinggalkan, sekalipun sedang dalam pertempuran. Ia senang sekali mendengarkan qari membaca al Quran, bahkan kerap menangis saat menyimaknya. Di malam peperangan pun, ulama-ulama hadits diminta membacakan beberapa hadits dihadapannya. Hebatnya, Shalahuddin jarang sekali meninggalkan shalat malam. Selain menyiapkan pasukan, persenjataan, strategi dan diplomasi yang jitu, setiap mujahid harus melatih mental dan kepribadiannya secara vertical. Inilah yang menjadikan modal utama tentara Allah kala menghadapi musuh yang kuat tentara dan persenjataannya. Al Aqsha pun dapat direbut kembali ke pangkuan kaum Muslimin.

[Adhes Satria. Sabili, No9 Th. XVII 9 Dzulhijjah 1430]

 

*) Beli segera majalah Sabili edisi No9 Th. XVII 9 Dzulhijjah 1430

: )

Kisah: Mengukir Karang dengan Namanya (Tariq bin Ziyad)

Mujahid

Mujahid

Mendung hitam menggelayut di atas bumi Spanyol. Eropa sedangdikangkangi oleh penjajah, Raja Gotik yang kejam. Wanita merasaterancam kesuciannya, petani dikenakan pajak tanah yang tinggi, danbanyak lagi penindasan yang tak berperikemanausiaan.Raja dan anteknya bersukaria dalam kemewahan sedang rakyat merintihdalam kesengsaraan. Sebagian besar penduduk yang beragama Kristen danYahudi, mengungsi ke Afrika, berharap mendapat ketenangan yang lebihmenjanjikan. Dan saat itu Afrika, adalah sebuah daerah yang makmur danmempunyai toleransi yang tinggi karena berada di bawah naunganpemerintahan Islam.

Satu dari jutaan pengungsi itu adalah Julian, Gubernur Ceuta yangputrinya Florinda telah dinodai Roderick, raja bangsa Gotik. Merekamemohon pada Musa bin Nusair, raja muda Islam di Afrika untukmemerdekakan negeri mereka dari penindasan raja yang lalim itu.Setelah mendapat persetujuan Khalifah, Musa melakukan pengintaian kepantai selatan Spanyol. Bulan Mei tahun 711 Masehi, Tariq bin Ziyad,budak Barbar yang juga mantan pembantu Musa bin Nusair memimpin 12.000anggota pasukan muslim menyeberangi selat antara Afrika dan daratanEropa.

Begitu kapal-kapal yang berisi pasukannya mendarat di Eropa, Tariqmengumpulkan mereka di atas sebuah bukit karang, yang dinamai JabalTariq (karang Tariq) yang sekarang terkenal dengan nama Jabraltar. Diatas bukit karang itu Thariq memerintahkan pembakaran kapal-kapal yangtelah menyeberangkan mereka.Tentu saja perintah ini membuat prajuritnya keheranan. “Kenapa Andalakukan ini?” tanya mereka. “Bagaimana kita kembali nanti?” tanya yanglain.

Namun Tariq tetap pada pendiriannya. Dengan gagah berani ia berseru,”Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya pilihan,menaklukkan negeri ini dan menetap di sini, atau kita semua syahid.”Keberanian dan perkataannya yang luar biasa menggugah Iqbal, seorangpenyair Persia, untuk menggubahnya dalam sebuah syair berjudul”Piyam-i Mashriq”:”Tatkala Tariq membakar kapal-kapalnya di pantai Andalusia (Spanyol),Prajurit-prajurit mengatakan, tindakannya tidak bijaksana. Bagaimanabisa mereka kembali ke negeri Asal, dan perusakan peralatan adalahbertentangan dengan hukum Islam. Mendengar itu semua, Tariq menghunuspedangnya, dan menyatakan bahwa setiap negeri kepunyaan Allah adalahkampung halaman kita.”

Kata-kata Tariq itu bagaikan cambuk yang melecut semangat prajuritmuslim yang dipimpinnya. Bala tentara muslim yang berjumlah 12.000orang maju melawan tentara Gotik yang berkekuatan 100.000 tentara.Pasukan Kristen jauh lebih unggul baik dalam jumlah maupunpersenjataan. Namun semua itu tak mengecutkan hati pasukan muslim.

Tanggal 19 Juli tahun 711 Masehi, pasukan Islam dan Nasrani bertemu,keduanya berperang di dekat muara sungai Barbate. Pada pertempuranini, Tariq dan pasukannya berhasil melumpuhkan pasukan Gotik, hinggaRaja Roderick tenggelam di sungai itu. Kemenangan Tariq yang luarbiasa ini, menjatuhkan semangat orang-orang Spanyol dan semenjak itumereka tidak berani lagi menghadapi tentara Islam secara terbuka.

Tariq membagi pasukannya menjadi empat kelompok, dan menye-barkanmereka ke Kordoba, Malaga, dan Granada. Sedangkan dia sendiri bersamapasukan utamanya menuju ke Toledo, ibukota Spanyol. Semua kota-kotaitu menyerah tanpa perlawanan berarti. Kece-patan gerak dan kehebatanpasukan Tariq berhasil melumpuhkan orang-orang Gotik.

Rakyat Spanyol yang sekian lama tertekan akibat penjajahanbangsa Gotik, mengelu-elukan orang-orang Islam. Selain itu,perilaku Tariq dan orang-orang Islam begitu mulia sehinggamereka disayangi oleh bangsa-bangsa yang ditaklukkannya.

Salah satu pertempuran paling seru terjadi di Ecija, yang membawakemenangan bagi pasukan Tariq. Dalam pertempuran ini, Musa binNusair, atasannya, sang raja muda Islam di Afrika ikut bergabungdengannya.

Selanjutnya, kedua jenderal itu bergerak maju terus berdampingandan dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun seluruh dataran Spanyoljatuh ke tangan Islam. Portugis ditakluk-kan pula beberapa tahunkemudian.

“Ini merupakan perjuangan utama yang terakhir dan palingsensasional bagi bangsa Arab itu,” tulis Phillip K.Hitti, “dan membawamasuknya wilayah Eropa yang paling luas yang belum pernah merekaperoleh sebelumnya ke dalam kekuasaan Islam. Kecepatan pelaksanaan dankesempurnaan keberha-silan operasi ke Spanyol ini telah mendapattempat yang unik di dalam sejarah peperangan abad pertengahan.”

Penaklukkan Spanyol oleh orang-orang Islam mendorong timbuln-yarevolusi sosial di mana kebebasan beragama benar-benar diakui.Ketidaktoleranan dan penganiayaan yang biasa dilakukan orang-orangKristen, digantikan oleh toleransi yang tinggi dan kebaikan hati yangluar biasa.

Keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu, sehingga jikatentara Islam yang melakukan kekerasan akan dikenakan hukumanberat. Tidak ada harta benda atau tanah milik rakyat yang disita.Orang-orang Islam memperkenalkan sistem perpajakan yang sangat jituyang dengan cepat membawa kemakmuran di semenanjung itu danmenjadikan negeri teladan di Barat. Orang-orang Kristen dibiarkanmemiliki hakim sendiri untuk memutuskan perkara-perkara mereka. Semuakomunitas mendapat kesempatan yang sama dalam pelayanan umum.

Pemerintahan Islam yang baik dan bijaksana ini membawa efek luarbiasa. Orang-orang Kristen termasuk pendeta-pendetanya yang padamulanya meninggalkan rumah mereka dalam keadaan ketakutan, kembalipulang dan menjalani hidup yang bahagia dan makmur. Seorang penulisKristen terkenal menulis: “Muslim-muslim Arab itu mengorganisirkerajaan Kordoba yang baik adalah sebuah keajaiban Abad Pertengahan,mereka mengenalkan obor pengetahuan dan perada-ban, kecemerlangan dankeistimewaan kepada dunia Barat. Dan saat itu Eropa sedang dalamkondisi percekcokan dan kebodohan yang biadab.” Tariq bermaksud menaklukkan seluruh Eropa, tapi Allahmenentukan lain. Saat merencanakan penyerbuan ke Eropa, datangpanggilan dari Khalifah untuk pergi ke Damaskus. Dengan disiplin dankepatuhan tinggi, Tariq memenuhi panggilan Khalifah dan berusahatiba seawal mungkin di Damaskus. Tak lama kemudian, Tariq wafatdi sana. Budak Barbar, penakluk Spanyol, wilayah Islam terbesar diEropa yang selama delapan abad di bawah kekuasaan Islam telah memenuhipanggilan Rabbnya. Semoga Allah merahmatinya. Tamat(her)

*)Diambil dari Kisah-kisah Islami

Next Page »


it’s not me

Introducing

Assalammu'alaykum wr wb

pokoke di nikmati wae opo onone blog iki...oke..
ngapurane nek wonten sing kurang..
(pokoknya dinikmati saja blog ini apa adanya..baik..maaf jika ada kekurangan)

terima kasih sudah berkunjung..

Basil T.

 

November 2009
S M T W T F S
« Oct    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Hijriah

Tausyiah of today

Orang yang pandai membaca Al Qur'an akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti, dan yang membaca tetapi sulit dan terbata-bata maka dia mendapat dua pahala. (HR. Bukhari dan Muslim)

Share



banner

jadwal sholat

your position

hit counter

free counters

daftar kategori

BOokS

Iklan Bisnis


Masukkan Code ini K1-C51D63-4
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com