Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain

Latest

Journey to The West: Nandur Padi di Lahan Demplot (Cisimeut Part 5)

Dalam program teknologi budidaya pertanian, demplot merupakan hal yang wajib. Demplot adalah lahan percobaan untuk penerapan teknologi budidaya. Untuk memilih lahan demplot juga ada kriterianya. Ga sembarangan. Beberapa kriterianya adalah air mudah didapat, tidak ada naungan, dan tempat strategis. Dalam pengelolaannya pun ada SOP (Standard Operational Prosedure) yang harus ditaati oleh pelaksana demplot, petani yang ditugaskan. Intinya adalah demplot digunakan sebagai teladan bagi lahan yang lain, sehingga petani menggunakan teknologi yang diterapkan dalam program ini.

Hari Selasa kemarin, tepatnya 22/11/2011, Gapoktan Al Ghina Cisimeut melakukan tandur untuk demplot program. Karena demplot ini dimaksudkan untuk lahan percontohan, Jadi harus bagus hasilnya. Jangan sampai buruk apalagi gagal panen. Namanya juga percontohan.

Aku sendiri dari bangun tidur sudah siap untuk menanam padi di lahan demplot. Sebelumnya, pengalaman pertama kalinya nanam padi adalah saat masih kuliah ketika kuliah kerja profesi (KKP) di Kecamatan Leuwisadeng, Kab Bogor. Waktu itu bersama teman-teman mencoba nandur padi. Namun tidak sampai selesai karena ketika sedang asik nandur, tak disangka ada seekor lintah yang panjang mencoba menyerang kami berempat. Iya, seekor lintah mencoba menyerang empat orang manusia. Dan hasilnya seekor lintah memenangkan pertempuran tersebut tanpa pertumpahan darah karena keempat manusia tersebut dengan gesit lari meninggalkan medan pertempuran..(ini mahasiswa IPB bukan sih, takut sama lintah…).

Dan kali ini aku ingin mencoba pengalaman yang sama. Sebagai Manajer sawah (Jabatanku di proyek demplot..hehe), aku juga harus serta merta turun ke sawah guna turut menanam padi.  Aku pun memberikan sedikit pengarahan kepada ibu-ibu penandur tentang cara tandur yang telah ditetapkan, yaitu dengan system legowo 2:1, artinya padi akan ditanam dua baris dua baris. System legowo dimaksudkan untuk mengkondisikan padi seperti berada dibagian pinggir. Karena dengan legowo, padi akan lebih banyak  menerima sinar matahari sehingga dapat leluasa berfotosintesis dibandingkan dengan yang tidak menggunakan system legowo. Sistem ini memang masih jarang digunakan oleh petani.

Setelah memastikan kondisi sawah aman dari lintah dan makhluk sejenis (minimal tidak terlihat), aku pun siap memberi komando kepada ibu-ibu penanam padi.

“Ayo ibu-ibu, mari kita baca doa dulu sebelum tandur..Bismillaah..” kataku.

Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang bicara dengan sopan, “mas Wali ga usah ikutan nandur, biar kami saja”.

Meskipun aku sebagai Manajer sawah, aku tetap ingin turut serta menanam padi. Aku punya prinsip bahwa kita harus meringankan beban bawahan kita dalam bekerja. Aku pun menolak tawaran tersebut. “Nda papa bu, saya juga ingin membantu supaya kerjanya lebih ringan.” Kataku.

“ga usah aja mas,” katanya lagi. “biar kami saja yang nanam. Mas duduk saja. Kami ga mau tanaman padi ini mati seperti tanaman jagung saat mas tanam waktu itu”.

Ooh..ternyata, aku diminta tidak ikut nandur karena mereka trauma gara-gara dulu aku pernah ikut bantu nanam jagung, dan jagungnya yang aku tanam dari tanganku ini mati semua..

Dan aku pun sambil senyum-senyum malu, “oya bu..mangga..”


Nandur

 

Demplot

 

Journey to The West: Jelajah Baduy (Cisimeut part 4)

Inilah pertama kalinya aku menjejakkan tanah di Kampung Baduy. Sebelumnya, hanya mendengarkan kisah tentang kearifan lokal suku Baduy yang pernah diceritakan oleh dosen waktu kuliah. Dan benar juga, masuk ke kampung Baduy udaranya sangat sejuk, berbeda dengan wilayah di luar sekitar Baduy. Hutannya juga masih asri. Tidak ada polusi dari kendaraan bermotor. Air masih jernih dan segar. Dan rumah-rumahnya juga tersusun rapi.

Waktu itu, aku diantar oleh Pak Enen. Sebenarnya sudah dari sekitar bulan Mei perjalanan ini, cuman baru sempat di upload sekarang. Dan perjalanannya juga tidak sampai ke Baduy Dalam, hanya sebatas Baduy Luar. Hanya sampai di jembatan bambu. Kalo ingin tahu tentang Baduy Luar & Dalam, bisa tanya mbah google. :)

Gunung Ulah dilebur, Lebak ulah dirusak

Tanpa banyak cincong, cekidot aja y..

peta lokasi

Pake jaket FoSSEI :)

Bisa main bola di halaman rumah

Rapi dan bersih ya

Ga ada sampah..bagaimana dengan rumahmu?

Pak Enen, tour guide..ini airnya dingin banget..padahal hari udah siang

Bamboo bridge..hanya cukup untuk satu orang

Lumbung padi. Setiap habis panen mereka menyimpan hasil panen di lumbung

Lagi pada kerja bakti benerin rumah

Journey to The West: Leuwidamar Mengajar (Cisimeut part 3)

Leuwidamar Mengajar.

Dulu saya sempet mendaftarkan diri ke Indonesia Mengajar. Tapi karena saat itu belum lulus, jadi ga lolos..(hehe..).

Nah sekarang, meskipun ga gabung dalam Indonesia Mengajar, saya masih tetep bisa mengajar. Selain aktivitas di Comdev, saya mencoba untuk menularkan penyakit, eh, maksudnya menularkan sedikit ilmu dan wawasan saya.

Di Leuwidamar sendiri ada satu desa yang aksesnya sangat sulit, jalan rusak, dan jauh dari keramaian. Terletak di kaki gunung dan bukit, namanya adalah Desa Nayagati. Pertama kalinya bawa motor ke sana, sekrup motor saya ada yang ilang satu..ckck..tapi justru menambah semangat saya untuk mengajar. Kelebihannya adalah ketika kita berangkat pagi-pagi, maka kita akan melihat pemandangan yang sangat indah (foto-foto saya posting di edisi sebelumnya..ntar ditambah lagi).

Sebagai alumni Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, saya diberi amanah untuk mengajar mata pelajaran Fisika. Sungguh sangat tidak nyambung. Berbekal ingatan saat SMP dan SMA, bismillaah.. Sekolah yang saya ajar adalah sekolah filial, dan merupakan angkatan 1st. Sebelumnya adalah pesantren.

Yowis, tanpa banyak cincong..silakan nikmati foto-fotonya..cekidot!!

Jalan inilah yang membuat sekrup motorku ilang satu

off road in the morning

Lagi musim kering kaya gini nih. kalo musim hujan...

Siswa-siswi yang sangat giat belajar

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.