
Masjid Alqsha kota Kudus

Majid Alaqsha di Al Quds
Kota Kudus dan Palestina
Jika kita mendengar kata Al Quds, Baitul Maqdis, Masjidil Aqsha, dan Palestina maka masyarakat kota Kudus lah yang seharusnya hatinya bergetar pertama kali. Dan kita saksikan sekarang ini penjajahan terhadap tanah Palestina yang dilakukan oleh Yahudi laknatullah belum berhenti. Pembantaian keji yang dilakukan oleh tentara Yahudi laknatullah terus saja terjadi. Desingan peluru dan dentuman ledakan dari tank-tank Yahudi enggan untuk diam. Jet-jet dan helikopter-helikopter mereka terus saja mengintai setiap gerak-gerik rakyat muslim Palestina.
Sebenarnya jika kita membaca sejarah kota Kudus maka kita akan merasakan kedekatannya dengan bumi Palestina yang sekarang ini sedang dirundung duka. Mungkin saja masyarakat kota Kudus sendiri tidak menyadarinya. Fakta-fakta yang tidak bisa kita abaikan tentang hal tersebut adalah nama dari kota Kudus itu sendiri dan berdirinya Masjid al Aqsha (Masjidil Aqsha) di kota Kudus.
Menurut berbagai informasi sejarah, seperti yang kita ketahui, pendiri kota Kudus adalah Ja’far Shadiq yang bergelar Sunan Kudus. Beliau adalah salah satu ulama penyebar agama Islam di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Nama ‘Kudus’ sendiri adalah nama yang diberikan oleh Syaikh Ja’far Shadiq yang diambil dari kata Al Quds, Baitul Maqdis Palestina.
Sejarah kedekatan antara kota Kudus dengan Palestina adalah ketika itu Syaikh Ja’far Shadiq (Sunan Kudus) menunaikan Haji di Tanah Suci Makkah. Pada saat itu terjadi wabah penyakit kudis yang melanda Tanah Suci. Oleh Amir (pemimpin) Makkah, Syaikh Syaikh Ja’far Shadiq diminta untuk turun tangan menghentikan wabah penyakit tersebut. Dan Alhamdulillah berhasil.
Sebagai tanda terima kasih, Amir Makkah memberikan hadiah kepada Syaikh Ja’far Shadiq. Akan tetapi, beliau menolak. Beliau hanya meminta jika nanti berada di Palestina agar diizinkan mengambil sebuah batu dari Baitul Maqdis dan Amir Makkah pun mengizinkannya. Syaikh Syaikh Ja’far Shadiq membawa batu tersebut pulang ke tanah Jawa. Kemudian batu tersebut digunakan oleh Syaikh Syaikh Ja’far Shadiq untuk mendirikan masjid, dan masjid itu diberi nama Masjid Al Aqsha, nama yang sama dengan masjid yang berada di Yerusalem Palestina yang pernah di singgahi oleh Rasulullah saw ketika Isra’ Mi’raj.
Masjid Al-Aqsa atau Masjid Menara Kudus didirikan pada 956 H atau 1549 M. Hal itu dapat diketahui dari inskripsi di atas mihrab masjid yang ditulis dalam bahasa Arab. Sayangnya, tulisan pada inskripsi itu sudah sulit dibaca karena banyak huruf yang rusak. Konon, batu inskripsi itulah yang dibawa oleh Sunan Kudus dari Yerusalem. Lebarnya 30 sentimeter dan panjangnya 46 sentimeter.
Itulah kedekatan hati dan emosional kita, masyarakat kota Kudus dan Baitul Maqdis Palestina. Semua ini bukanlah kebetulan, melainkan Allah SWT telah menskenariokannya.
Dan sekarang ini, kesucian Masjidil Aqsha yang di Palestina telah diinjak-injak oleh kaki-kaki najis Yahudi laknatullah. Mereka hendak merampas masjid yang merupakan kiblat pertama umat muslimin. Mereka hendak merampas masjid yang bersejarah bagi umat muslimin. Mereka hendak merampas masjid yang di sana selalu mengagungkan asma-asma Allah.
Rasulullah saw pernah bersabda,” Tidak dibenarkan ziarah (kunjungan) ke masjid-masjid kecuali pada ketiga masjid, yaitu masjidil Haram (Mekah), masjidil Aqsha(Baitul Maqdis), dan masjidku ini (Masjid Nabawi, Madinah)”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Mari kita bergerak. Ini adalah urusan umat muslimin yang berada di muka bumi ini. Rasulullah saw pernah bersabda, “Siapa saja yang bangun pagi, sementara ia hanya memperhatikan masalah dunianya, maka ia tidak berguna apa-apa di sisi Allah. Siapa saja yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslim, maka ia tidaklah termasuk golongan mereka.” (HR. Thabrani)
Kita juga pasti akan ingat sabda Rasulullah saw, “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu tubuh; apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuh akan sulit tidur dan merasa demam.” (HR Muslim)
Minimal yang kita lakukan adalah memanjatkan doa untuk saudara-saudara kita yang di Palestina dan mendukung setiap aksi yang dilakukan dalam upaya pembebasan bumi Palestina.
Dan yang paling penting adalah rasa syukur kita kepada Allah yang menjadikan negeri kita Indonesia ini penuh dengan limpahan kenikmatan dan rahmat sehingga kita bisa memaksimalkan ketaatan kita dan beribadah kepada Allah. Kita dapat menunaikan ibadah Sholat Fardhu di awal waktu tanpa harus diintai oleh helikopter-helikopter Yahudi. Kita dapat belajar dan bekerja dengan tenang tanpa harus di kejar-kejar dan diburu peluru oleh Yahudi.
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Israa’ 1)
wallahu’alam
Recent Comments