Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain

Latest

​GENERASI MILLENIAL, GENERASI ISLAMKU

​​“GENERASI MILLENIAL, GENERASI ISLAMKU”
GENERASI MILLENIAL

Apa itu generasi millenial? 

Istilah ini diciptakan oleh dua pakar sejarah & penulis Amerika, William Strauss & Neil Howe. Menurut pakar, penggolongan generasi millenial adalah yang generasi yang lahir pada awal revolusi digital yaitu rentang tahun 1980 s.d. 1990 hingga 2000, yang ditandai dengan penggunaan perangkat mobile sekitar 3 jam/hari. Teori mengenai generasi millenial telah banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan terutama dalam memetakan potensi pasar serta dalam merekrut tenaga kerja, termasuk perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia. Beberapa ciri-ciri generasi millenial:

Generasi millenial lebih percaya user generated content daripada info searah (lebih memilih testimoni daripada iklan)

Generasi millenial memilih ponsel dibanding TV

Generasi millenial wajib punya social media

Generasi millenial kurang suka membaca secara konvensional, lebih memilih e-book

Generasi millenial banyak melakukan transaksi cashless

Kondisi tersebut di atas dapat kita saksikan pada zaman sekarang. Jadi generasi millenial, sebenarnya tidak terbatas pada tahun kelahiran atau usia tertentu. Penggunaan social media, online shop, e-commerce, messenger, dan digitalisasi lainnya merupakan kondisi zaman saat ini.

Bahkan dalam perbankanpun saat ini dan kedepan terus menggembangkan digitalisasi layanan keuangan. Ke depan bank akan mengurangi kantor atau branchless serta telah diimplemantasikan cashless seperti tap cash, mobile banking, dsb. Ke depan orang tidak perlu keluar rumah, mengendarai mobil ke sebuah outlet bank, cukup menggunakan layanan mobile banking dalam transaksi. bahkan layanan kredit pun sudah menggunakan e-form termasuk absensi pegawai. Semua serba digital. 
GENERASI ISLAM

Lalu bagaimana dengan generasi Islam?

Dalam ajaran agama Islam, setiap orang yang sudah memasuki masa taklif yang memuat unsur baligh & aqil, telah terkena kewajiban dan tanggungjawab melaksanakan ketentuan agama. Baik yang berusia belasan tahun hingga usia puluhan tahun, kewajiban dan hak agamanya sama.
Karena itu, penting kiranya menyiapkan generasi Islam yang bertanggungjawab sesuai dengan ketentuan agama. Rasullah SAW telah mengajarkan kepada kita, diantaranya adalah bagaimana cara mendidik generasi penerus melalui perintah shalat.
Rasulullah bersabda yang artinya “ajarkanlah anakmu shalat ketika telah berusia 7 tahun dan pukullah dia pada saat usia 10 tahun (apabila meninggalkannya)” – HR Turmudzi – 
Tips menyiapkan generasi Islam bertanggungjawab:

Usia 3 – 7 tahun, anak mulai dikenalkan mengenai ajaran agama. Anak merupakan peniru yang handal. Oleh karena itu, hendaknya orang tua memberikan contoh terbaik bagi sang anak. Di usia ini, perlu kesabaran dan pemakluman yang baik dari orang tua.

Usia 7-10 tahun, anak mulai diajarkan pemahaman ajaran agama. Anak diberikan pemahaman ajaran agama yang benar. Diusia inilah anak mulai dilatih, dievaluasi, diajarkan mana-mana ketentuan agama yang wajib maupun yang dilarang.

Usia 10 tahun – taklif. Diusia ini anak sudah diajak untuk belajar bermusyawarah dan berkomunikasi,  membuat kesepatakan bersama untuk mengetahui konsekuensi-konsekuensi atas pelanggaran ketentuan agama serta apa saja yang didapat jika menjalankan perintah agama. Diawali dengan musyawarah dan komunikasi ini, anak siap untuk bertanggungjawab atas apa saja yang telah dilakukannya. Ini membentuk generasi yang bermental kuat dan terhindar dari generasi bermental lemah. Masa ini merupakan masa-masa persiapan menuju taklif. Masa tinggal landas.
MEMPERSIAPKAN GENERASI ISLAM YANG SESUAI ZAMANNYA 

Dari uraian di atas, maka dapat memahami bahkan kondisi zaman saat ini merupapkan bi idznillah atau atas izin Allah. Karena kita hidup pada masa sekarang ini, maka kondisi digitalisasi saat ini tidak dapat terelakan. Oleh sebab itu, generasi Islam hendaknya merupakan generasi yang selalu siap sedia akan kondisi zaman, tidak mudah gumunan dan senantiasa memiliki peran penting didalamnya. 
Era digitalisasi saat ini tentu menciptakan peluang dan tantangan. Peluangnya adalah bagaimana generasi Islam dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya dalam membentuk peradaban manusia yang sesuai dengan fitrahnya. Tantangannya adalah era digitalisasi ini tentunya juga menjadi celah bagi segolongan manusia yang berbuat dzalim. Contohnya maraknya penipuan menggunakan sarana-sarana elektronik, seperti membobol bank, bahkan wabah ransomeware yang digunakan untuk memeras korban. Ada juga Judi online, prostitusi online, kabar hoax dan pencitraan, dll. Generasi Islam harus disiapkan dengan baik. Jangan sampai menjadi korban atas perilaku-perilaku menyimpang tersebut apalagi menjadi pelaku menyimpang tersebut, na ‘udzubillah. 
Generasi Islam pada era digitalisasi ini hendaknya berperan dalam amar ma’ruf nahi munkar dengan segenap kemampuan. Generasi Islam, baik yang senior maupun yunior, hendaknya memiliki semangat jihad. Jihad dalam menegakkan keadilan dan mencegah kedzaliman, tentunya dengan cara-cara yang cerdas dan bijak.  Misalkan menciptakan perangkat anti pornografi, anti judi online, anti virus, dll. Atau menciptakan aplikasi-aplikasi yang membantu memudahkan aktivitas Islam seperti waktu shalat, hadits digital, dll. Mempersiapkan Generasi Islam sesuai Zamannya.

Firman Allah SWT:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿١٠٤﴾

Dan jadilah kamu diantara kalian umat yang mengajak kepada kebaikan dan menyuruh dengan ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Aali Imraan 104)

Penutup

Dikisahkan pada saat pemberhentian pertama pada perjalanan perang Badr, sepupu Nabi, Sa’ad dari Zuhrah, memperhatikan saudara laki-lakinya yang berusia 15 tahun, ‘Umayr, tampak gelisah dan cemas. Ia menanyakan apa penyebabnya. “Aku takut”, jawab ‘Umayr, “kalau kalau Nabi melihatku dan menganggapku terlalu muda untuk turut dalam pasukan ini dan kemudian menyuruhku pulang ke rumah. Padahal, aku benar-benar ingin berjihad hingga Allah menganugerahi aku kesyahidan.”
Seperti yang ‘umayr takutkan, Nabi memerhatikan dia saat memeriksa barisan. Beliau mengatakan bahwa ia terlalu muda dan disuruh pulang. Tetapi, ‘Umayr menangis hingga akhirnya diizinkan untuk tetap tinggal dan turut dalam ekspedisi itu. “Ia masih sangat muda”, cerita Sa’d, “bahkan aku masih harus membantunya mengikatkan tali pedangnya.” (sirah Nabawiyah oleh Abu Bakr Siraaj ad Diin).
Sekian

Afwan minkum

-MAH-

(Bogor, 6 Juni 2017)

Advertisements

Fungsi Pendidikan

Fungsi Pendidikan
Sebagai orang beriman, pendidikan bukan sekedar menjadikan seseorang menjadi pintar dan sukses. Namun lebih daripada itu, pendidikan bagi orang beriman adalah sarana utk membentuk pribadi beriman dan bertaqwa. Mengapa? Karena orang yg beriman akan diberikan petunjuk oleh Allah dan orang bertaqwa akan diajar oleh Allah. Orang yg diberi petunjuk dan diajar oleh Allah, yakin pasti lebih pintar dari segala makhluk.
Buktinya apa? Buktinya adalah 
فَهَدَى ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ مِنَ ٱلْحَقِّ بِإِذْنِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿٢١٣﴾

Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus

Q.S.Al Baqarah:213
مَن يَهْدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلْمُهْتَدِ ۖ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ وَلِيًّا مُّرْشِدًا ﴿١٧﴾

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang tersesat, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya

(Q.S.18:17)
وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّهُ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ ﴿٢٨٢﴾

Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu

(Q.S.2:282)
Mari kita perhatikan dan renungkan. Sebagian besar orang memiliki pola pikir bahwa ketika dia dapat dibimbing oleh seorang guru, dosen, profesor, pemimpin, di suatu sekolah atau kampus ternama baik dalam maupun luar negeri kemudian dia berharap akan meningkatkan derajatnya. Karena dianggap bahwa profesor atau kampus tersebut memiliki segudang fasilitas dan ilmu. Namun tidakkah kita yakin bahwa Allah lah sesungguhnya Sang Pemilik Perbendaharaan Ilmu?
Oleh karena itu, kita sebagai orang tua, guru, dosen, pembimbing siswa/mahasiswa, pemimpin, janganlah pernah sombong dg beranggapan bahwa kita yg telah menyukseskan orang. Sekali lagi bukan. Tugas kita adalah mengajak anak, siswa/mahasiswa, staff, rekan2 kita, dan orang2 utk beriman dan bertakwa. 
Jika kita telah berupaya menggapai iman dan taqwa, maka Allah lah yg kelak akan memberikan jalan keluar dan rizki. Tentu jalan keluar dan rizki yg dimaksud adalah rizki yg barakah dan yg diridhai Allah. 
ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِۦ مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا ﴿٢﴾

Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar

(Q.S.65:2)
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ﴿٣﴾

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanyaa

(Q.S.65:3)
Maka kelirulah anggapan bahwa dg sekolah atau kuliah itu akan dapat memudahkan rizki kita. Kalau pun mendapatkan rizki, apakah pasti barakah? Tidak kurang orang2 yg dg harta dan titel berderet pada akhirnya menjadi buron karena menyelewengkan amanah rakyat. Mari kita kenang sejenak kisah Qarun.
قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِىٓ ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِۦ مِنَ ٱلْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْـَٔلُ عَن ذُنُوبِهِمُ ٱلْمُجْرِمُونَ ﴿٧٨﴾
“Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka

(Q.S.28:78)
Lalu itu semua, iman dan taqwa, dalam rangka apa? Tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka menolong agama Allah. Kita selalu dapati setiap orang yg senantiasa berjuang menolong agama Allah, namanya selalu harum meskipun jasad telah tiada. Dari generasi ke generasi akan selalu ingat namanya. Sebut saja Nabi Muhammad & para Nabi, para Shabat Nabi, serta pejuang2 Islam lainnya. Karena memang itulah janji Allah bagi orang2 yg menolong agama Allah.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ ﴿٧﴾

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

(Q.S.47:7)
Wallahua’lam
Bogor 15 Mei 2017

MAH

Mengingat Kembali Peristiwa Bersejarah 90 Tahun yang Lalu

Telah tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia ini, yaitu aksi damai rakyat Indonesia atau lebih tepatnya umat Islam yakni pada hari Jumat tanggal 4 November 2016 yang dikenal dengan 4 11. Sekitar 2,5juta Umat Islam turun ke jalan, long march dari Masjid Istiqlal – Balaikota DI Jakarta – Istana negara, menuntut seorang gubernur yang telah menistakan Al Quran Surat Almaidah ayat 51. Kemudian aksi tersebut akan dilanjutkan dengan aksi 2 Desember 2016 atau 212.

Peristiwa ini tentu mengingatkan kita pada tahun 1925 silam. Barangkali masih sedikit rakyat Indonesia yang mengetahui kisah sejarah ini. Oleh karena itu, berikut ini adalah kutipan dari sebuah buku yang ditulis oleh salah satu tokoh besar Muhammadiyah yaitu H. Djarnawi Hadikusumo, putra dari seorang pahlawan perintis kemerdekaan nasional Indonesia Ki Bagus Hadikusumo yang merupakan peletak dasar Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Buku tersebut berjudul Matahari-Matahari Muhammadiyah yang diterbitkan Suara Muhammadiyah. Dalam buku tersebut, H. Djarnawi Hadikusumo mengisahkan riwayat salah satu seorang tokoh besar yang juga merupakan pahlawan nasional yaitu H. Fachrodin. Mari kita simak, mudah-mudahan terdapat hikmah dari kisah tersebut.

===

Bertepatan dengan hari peringatan Isra’ Mi’raj direncanakan untuk mengadakan pawai besar umat Islam berkeliling kota untuk menunjukkan kebesaran umat Islam sebagai mayoritas yang tidak selayaknya dianaktirikan oleh pemerintah (kolonial-ed). Maka diadakan undangan dan pengumuman seluas-luasnya agar segenap lapisan kaum Muslimin, pria dan wanita, tua dan muda, berkumpul di Alun-alun Utara (Yogyakarta-ed) pada hari tanggal 27 Rajab untuk berpawai, yang kalau sekarang diistilahkan dengan “show of force”. Percetakan Persatuan mencetak beberapa puluh ribu bendera dari kertas hijau dengan lambang “matahari” dan “dua kalimat syahadat”.

Pagi hari yang telah ditentukan, 35.000 kaum Muslimin telah berkumpul di Alun-alun. Di tangan masing-masing tergenggam bendera hijau lambang matahari dan dua kalimah syahadat. Seribu orang Pandu Hizbul-Wathan telah siap dengan terompet dan genderang untuk menjadi pelopor pawai.

Pawai umat Islam tahun 1925 itu mencapai sukses besar Semangat Islam meluap dan umat Islam sadar akan kepribadiannya sebagai mayoritas yang harus diperhitungkan. Panitia yang menyelenggarakan pawai itu diubah sifatnya menjadi badan tetap yang diberi nama Bestuur (Pengurus) Umat Islam.

Pada tahun 1926, dalam rangka peringatan Isra’ Mi’raj, Pengurus Umat Islam telah mempersiapkan segala sesuatu untuk mengadakan segala sesuatu untuk mengadakan pawai yang lebih besar lagi. Bahkan, kepada umat Islam di kota-kota lain pun dianjurkan untuk mengadakan pawai pula, serentak pada tanggal 27 Rajab.

Bendera dicetak 35.000 lembar dan masih ditambah untuk memenuhi permintaan dari lain-lain kota. Siaran, pengumuman, dan selebaran telah dibuat. Permohonan izin kepada pengurus telah diajukan, pendeknya semua sudah siap.

Tetapi pemerintah tidak memberi izin bagi berlangsungnya pawai tersebut, dengan alasan tidak cukup mempunyai polisi (politie-ed) untuk menjaga ketertiban dan keamanan.

Alangkah jengkel dan marahnya umat Islam. Lalu apakah yang diperbuat oleh Fachrodin dalam menanggapi larangan itu?

Larangan pemerintah untuk mengadakan pawai umat Islam, padahal semua persiapan telah selesai benar-benar membuat Fahcrodin kecewa, jengkel, dan marah. Segera diangkatnya pena kemudian dituliskannya selebaran yang kemudian disiarkannya seluas-luasnya dan dimuat dalam majalah yang dipimpinnya, Bintang Islam nomor 4 tahun 1926. Isinya merupakan luapan hati yang penuh emosi, namun tetap tertib dan terarah. Di bawah ini dimuatkan sebagian isi selebaran itu tanpa perubahn susunan bahasa. Sudah tentu susunan dan bahasannya belum baik dan belum benar seperti bahasa Indonesia dewasa ini.

KEBENARAN TIDAK BOLEH TERLARANG

Sampai sekarang pun kita masih belum merasa puas, jikalau kita memikirkan hal itu perihal penolakan pembesar negeri Yogyakarta terhadap perarakan Umat Islam, yang dengan beralasan kekurangan politie yang menjaganya. Jikalau betul-betul hanya kekurangan perkara ini saja, tokh sudah mendapat jawaban dan tanggungan dari Bestuur Umat Islam, yang dimaksudnya adalah Bestuur berani menanggung keamanannya. Tetapi Assistant Resident tetap tak berani menaggung  keamanan di dalam perkara ini.

Kalau kita fikirkan yang sedalamnya, perkara pemerintah tidak beraninya pemerintah menanggung keamanan dengan kesanggupan: jikalau ada perusuhan yang menjadikan tidak amannya perarakan itu, Bestuur Umat Islam sanggup menurut apa saja yang menjadi kehendak pemerintah. Sehingga meskipun dihukum kalau dirasa perlu, dan jikalalu perlu dibunuh pemimpin Umat Islam, Bestuur Umat Islam pun tak akan berlari, melainkan menunjukkan dirinya buat diserahkan pemerintah.

Tetapi pemerintah rupanya masih belum berani saja menanggung keamanannya. Jikalau kita fikirkan yang sepanjang-panjangnya, bukanlah perkara keamanan, kekurangan politie yang menjadi sebab penolakan itu, tetapi rupanya mesti ada barang yang lain, yang terkandung di dadanya, yang sebab-sebab itu berlainan dengan barang yang diucapkannya.

Keamanan lahir itulah suatu kebaikan yang sekecil-kecilnya bagi manusia yang hidup bersama, tetapi bahaya besar kalau kemanan itu sunyi dari pada terkandung di dalam dada manusia yang sama berduduk di dalam dada manusia yang sama berduduk di negeri itu, hal yang demikian ini, sesungguhnya menjadi pikiran panjang bagi segala orang yang memegang pemerintahan di mana-mana negeri yang diharap amannya. Masa bodoh kalau memang ada suatu pemerintahan yang memang sudah bosan dan merasa kesal hati buat memegang pemerintahan itu.  JIkalau sekarang ini ada pemerintahan yang sedemikian itu sudah barang tentu menjadi pengharapan rakyat yang diperintahnya agar supaya dengan segera mereka melepaskan kekuasaannya, diserahkan kepada rakyat.

Sesungguhnya di mana-mana dan benua yang kekuasaannya itu diperintahkan oleh pemerintah yang bukan bangsanya, atau pun bangsanya sama sekali, tetapi pemerintah itu tak dapat menyetujui kehendak rakyatnya, maka segala dan segenap rakyatnya itu sudah merasa sangat butuh kepada kemerdekaan rakyat seluas-luasnya.

Kembali perkara cegahan atau penolakan perarakan Umat Islam di Yogyakarta. Kita masih senantiasa tak putus heran dan takjub di hati sanubari kita, meskipun rasanya sampai pada mati kita, rupanya heran dan takjub kita itu tak bisa dihilangkan. Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi riwayat yang besar di Hindia kita ini.

Anak cucu kita rupanya ingin sekali akan mengetahui dan mengerti akan riwayat penolakan perarakan Umat Islam kita ini, meskipun anak cucu kita yang sekarang belum lahir di duni a ini.

Kedua kali kita memuji ke hadlirat Tuhan Yang Maha Adil: Mudah-mudahanlah penolakan perarakan Umat Islam di Yogyakarta itu bisa menjadi riwayat Hindia yang terbesar dan termasyur adanya. Hendaklah Tuhan menuruti akan permohon kita ini. Amien.

H. Fachrodin

Demikianlah sebagian isi dari selebaran Fachrodin yang penuh emosi itu, sehinga kelihatan jelas isi hatinya sangat tidak menyukai pemerintahan kolonial dan para pejabatnya yang terdiri dari orang kulit putih dan orang-orang pribumi yang menjadi alat atau kaki tangannya.

===

Daftar Pustaka

Hadikusumo, H. Djarnawi. 2014. Matahari-matahari Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.