Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain

Latest

Mengingat Kembali Peristiwa Bersejarah 90 Tahun yang Lalu

Telah tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia ini, yaitu aksi damai rakyat Indonesia atau lebih tepatnya umat Islam yakni pada hari Jumat tanggal 4 November 2016 yang dikenal dengan 4 11. Sekitar 2,5juta Umat Islam turun ke jalan, long march dari Masjid Istiqlal – Balaikota DI Jakarta – Istana negara, menuntut seorang gubernur yang telah menistakan Al Quran Surat Almaidah ayat 51. Kemudian aksi tersebut akan dilanjutkan dengan aksi 2 Desember 2016 atau 212.

Peristiwa ini tentu mengingatkan kita pada tahun 1925 silam. Barangkali masih sedikit rakyat Indonesia yang mengetahui kisah sejarah ini. Oleh karena itu, berikut ini adalah kutipan dari sebuah buku yang ditulis oleh salah satu tokoh besar Muhammadiyah yaitu H. Djarnawi Hadikusumo, putra dari seorang pahlawan perintis kemerdekaan nasional Indonesia Ki Bagus Hadikusumo yang merupakan peletak dasar Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Buku tersebut berjudul Matahari-Matahari Muhammadiyah yang diterbitkan Suara Muhammadiyah. Dalam buku tersebut, H. Djarnawi Hadikusumo mengisahkan riwayat salah satu seorang tokoh besar yang juga merupakan pahlawan nasional yaitu H. Fachrodin. Mari kita simak, mudah-mudahan terdapat hikmah dari kisah tersebut.

===

Bertepatan dengan hari peringatan Isra’ Mi’raj direncanakan untuk mengadakan pawai besar umat Islam berkeliling kota untuk menunjukkan kebesaran umat Islam sebagai mayoritas yang tidak selayaknya dianaktirikan oleh pemerintah (kolonial-ed). Maka diadakan undangan dan pengumuman seluas-luasnya agar segenap lapisan kaum Muslimin, pria dan wanita, tua dan muda, berkumpul di Alun-alun Utara (Yogyakarta-ed) pada hari tanggal 27 Rajab untuk berpawai, yang kalau sekarang diistilahkan dengan “show of force”. Percetakan Persatuan mencetak beberapa puluh ribu bendera dari kertas hijau dengan lambang “matahari” dan “dua kalimat syahadat”.

Pagi hari yang telah ditentukan, 35.000 kaum Muslimin telah berkumpul di Alun-alun. Di tangan masing-masing tergenggam bendera hijau lambang matahari dan dua kalimah syahadat. Seribu orang Pandu Hizbul-Wathan telah siap dengan terompet dan genderang untuk menjadi pelopor pawai.

Pawai umat Islam tahun 1925 itu mencapai sukses besar Semangat Islam meluap dan umat Islam sadar akan kepribadiannya sebagai mayoritas yang harus diperhitungkan. Panitia yang menyelenggarakan pawai itu diubah sifatnya menjadi badan tetap yang diberi nama Bestuur (Pengurus) Umat Islam.

Pada tahun 1926, dalam rangka peringatan Isra’ Mi’raj, Pengurus Umat Islam telah mempersiapkan segala sesuatu untuk mengadakan segala sesuatu untuk mengadakan pawai yang lebih besar lagi. Bahkan, kepada umat Islam di kota-kota lain pun dianjurkan untuk mengadakan pawai pula, serentak pada tanggal 27 Rajab.

Bendera dicetak 35.000 lembar dan masih ditambah untuk memenuhi permintaan dari lain-lain kota. Siaran, pengumuman, dan selebaran telah dibuat. Permohonan izin kepada pengurus telah diajukan, pendeknya semua sudah siap.

Tetapi pemerintah tidak memberi izin bagi berlangsungnya pawai tersebut, dengan alasan tidak cukup mempunyai polisi (politie-ed) untuk menjaga ketertiban dan keamanan.

Alangkah jengkel dan marahnya umat Islam. Lalu apakah yang diperbuat oleh Fachrodin dalam menanggapi larangan itu?

Larangan pemerintah untuk mengadakan pawai umat Islam, padahal semua persiapan telah selesai benar-benar membuat Fahcrodin kecewa, jengkel, dan marah. Segera diangkatnya pena kemudian dituliskannya selebaran yang kemudian disiarkannya seluas-luasnya dan dimuat dalam majalah yang dipimpinnya, Bintang Islam nomor 4 tahun 1926. Isinya merupakan luapan hati yang penuh emosi, namun tetap tertib dan terarah. Di bawah ini dimuatkan sebagian isi selebaran itu tanpa perubahn susunan bahasa. Sudah tentu susunan dan bahasannya belum baik dan belum benar seperti bahasa Indonesia dewasa ini.

KEBENARAN TIDAK BOLEH TERLARANG

Sampai sekarang pun kita masih belum merasa puas, jikalau kita memikirkan hal itu perihal penolakan pembesar negeri Yogyakarta terhadap perarakan Umat Islam, yang dengan beralasan kekurangan politie yang menjaganya. Jikalau betul-betul hanya kekurangan perkara ini saja, tokh sudah mendapat jawaban dan tanggungan dari Bestuur Umat Islam, yang dimaksudnya adalah Bestuur berani menanggung keamanannya. Tetapi Assistant Resident tetap tak berani menaggung  keamanan di dalam perkara ini.

Kalau kita fikirkan yang sedalamnya, perkara pemerintah tidak beraninya pemerintah menanggung keamanan dengan kesanggupan: jikalau ada perusuhan yang menjadikan tidak amannya perarakan itu, Bestuur Umat Islam sanggup menurut apa saja yang menjadi kehendak pemerintah. Sehingga meskipun dihukum kalau dirasa perlu, dan jikalalu perlu dibunuh pemimpin Umat Islam, Bestuur Umat Islam pun tak akan berlari, melainkan menunjukkan dirinya buat diserahkan pemerintah.

Tetapi pemerintah rupanya masih belum berani saja menanggung keamanannya. Jikalau kita fikirkan yang sepanjang-panjangnya, bukanlah perkara keamanan, kekurangan politie yang menjadi sebab penolakan itu, tetapi rupanya mesti ada barang yang lain, yang terkandung di dadanya, yang sebab-sebab itu berlainan dengan barang yang diucapkannya.

Keamanan lahir itulah suatu kebaikan yang sekecil-kecilnya bagi manusia yang hidup bersama, tetapi bahaya besar kalau kemanan itu sunyi dari pada terkandung di dalam dada manusia yang sama berduduk di dalam dada manusia yang sama berduduk di negeri itu, hal yang demikian ini, sesungguhnya menjadi pikiran panjang bagi segala orang yang memegang pemerintahan di mana-mana negeri yang diharap amannya. Masa bodoh kalau memang ada suatu pemerintahan yang memang sudah bosan dan merasa kesal hati buat memegang pemerintahan itu.  JIkalau sekarang ini ada pemerintahan yang sedemikian itu sudah barang tentu menjadi pengharapan rakyat yang diperintahnya agar supaya dengan segera mereka melepaskan kekuasaannya, diserahkan kepada rakyat.

Sesungguhnya di mana-mana dan benua yang kekuasaannya itu diperintahkan oleh pemerintah yang bukan bangsanya, atau pun bangsanya sama sekali, tetapi pemerintah itu tak dapat menyetujui kehendak rakyatnya, maka segala dan segenap rakyatnya itu sudah merasa sangat butuh kepada kemerdekaan rakyat seluas-luasnya.

Kembali perkara cegahan atau penolakan perarakan Umat Islam di Yogyakarta. Kita masih senantiasa tak putus heran dan takjub di hati sanubari kita, meskipun rasanya sampai pada mati kita, rupanya heran dan takjub kita itu tak bisa dihilangkan. Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi riwayat yang besar di Hindia kita ini.

Anak cucu kita rupanya ingin sekali akan mengetahui dan mengerti akan riwayat penolakan perarakan Umat Islam kita ini, meskipun anak cucu kita yang sekarang belum lahir di duni a ini.

Kedua kali kita memuji ke hadlirat Tuhan Yang Maha Adil: Mudah-mudahanlah penolakan perarakan Umat Islam di Yogyakarta itu bisa menjadi riwayat Hindia yang terbesar dan termasyur adanya. Hendaklah Tuhan menuruti akan permohon kita ini. Amien.

H. Fachrodin

Demikianlah sebagian isi dari selebaran Fachrodin yang penuh emosi itu, sehinga kelihatan jelas isi hatinya sangat tidak menyukai pemerintahan kolonial dan para pejabatnya yang terdiri dari orang kulit putih dan orang-orang pribumi yang menjadi alat atau kaki tangannya.

===

Daftar Pustaka

Hadikusumo, H. Djarnawi. 2014. Matahari-matahari Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Karakter Nabi Adam Vs Iblis

Karakter Nabi Adam Vs Iblis

(belajar dari kisah Nabi Adam dan Iblis)

Jika kita mencoba mentadaburi Alquran surat Al – A’raaf ayat 11 s.d 27, maka kita dapat mengambil hikmah dari kisah dikeluarkannya Nabi Adam dan Iblis dari Jannah. Nabi Adam dan Iblis sama-sama dikeluarkan dari Jannah, namun dari keduanya terdapat perbedaan yang sangat mencolok terutama dari karakter masing-masing. Dari situ kita akan tahu bagaimana sesungguhnya sifat dasar/murni dari manusia dan bagaimana pula sifat dasar/murni dari iblis. Dari kisah tersebut, mari kita renungkan bersama.

Sifat Iblis: Sombong, durhaka/pembangkang, mudah emosi, tidak mau bertaubat, pendendam, banyak permintaan dan banyak bicara. Sifat Adam/Manusia: Cerdas, Suka bertaubat, Tidak banyak bicara, Fair, Profesional, Taat&patuh, Sabar.

Iblis membangkang atas perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam. Sebelumnya, Allah swt dengan bijak menanyakan terlebih dahulu apa yang menyebabkan ia tidak mau sujud kepada Adam. Namun dengan sombongnya Iblis mengatakan bahwa dia lebih baik dari pada Adam. Padahal Iblis tidak mempunyai bukti/argumen yang dapat menguatkan anggapannya tersebut. Iblis hanya beralasan/berdalih bahwa dia diciptakan dari api sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Lalu benarkah api lebih baik daripada tanah?

Faktanya bahwa api memang dapat memberikan manfaat, itupun dengan catatan jika api tersebut dapat dikontrol, misalnya untuk memasak atau untuk memanaskan pemanas ruangan. Jika api tidak terkontrol justru dapat menimbulkan malapetaka seperti kebakaran. Sedangkan tanah, merupakan tempat seluruh makhlus berpijak. Tempat makhluk mencari rizki. Tempat makhluk untuk memenuhi segala kebutuhan. Tanah mengandung unsur-unsur hara maupun mineral-mineral yang dibutuhkan oleh makhluk hidup, sehingga siklus kehidupan terus dapat berjalan. Tanah, didalamnya menyimpan banyak kekayaan. Mulai dari air tanah, minyak & gas bumi, dan emas, maupun kekayaan lainnya. Bahkan secara ekonomi, harga tanah semakin meningkat. Hampir seluruhnya apa yang ada dimuka bumi ini bergantung pada tanah. Berbeda dengan api yang mana dia bergantung dari bahan bakar, sedangkan bahan bakar yang digunakan oleh api berasal dari apa yang ada di bawah maupun di atas tanah.

Dari semua hal tersebut, sudah sepantasnya kah perkataan Iblis yang mengatakan bahwa dia yang tercipta dari api lebih baik dari pada Adam yang tecipta dari tanah? Atau itu hanya sekedar persangkaan dari Iblis semata?

Akibat dari kesombongan dan kedurhakaannya itu, Iblis divonis sesat oleh Allah swt. Vonis tersebut bukannya membuat dia menyadari kesalahannya namun justru memendam dendam kesumat kepada anak cucu Adam hingga bersumpah untuk menyesatkan mereka. Iblis bersalah atas perbuatan dia sendiri, namun justru hendak mencari teman untuk dapat dipersalahkan, agar mengikuti jejak yang dilakukannya. Itulah sifat Iblis, ingin menyebarkan virus kedurhakaan, mencari teman agar ikut berbuat salah. Selain dendam kesumat kepada anak cucu Adam, Iblis juga banyak maunya. Dia ingin ditangguhkan hingga hari kiamat.

Lalu bagaimana dengan Adam? Di dalam Al Quran, ayat yang mengisahkan tentang Nabi Adam, hanya sekali saja beliau berkata, yaitu doa permohonan ampunan kepada Allah swt dan pengakuan kesalahan yang telah beliau lakukan bersama dengan istrinya. Dan semenjak itu, Allah telah mengampuni kesalahan Nabi Adam dan istrinya. Maka tidak ada dosa turunan. Dari situ kita bisa mengambil hikmah bahwa Nabi Adam adalah orang yang tenang dan kalem. Itulah sesungguhnya sifat dasar manusia. Nabi Adam dan istrinya berbuat salah sebenarnya adalah karena pengaruh bisikan syaitan yang membujuknya agar mendekati pohon terlarang. Syaitan menjanjikan janji palsu bahkan menyatakan diri bahwa dia adalah seorang pemberi nasihat. Begitu halus rayuan syaitan sehingga Nabi Adam dan istrinya terperdaya. Itulah provokasi syaitan yang menyebabkan Nabi Adam dan istrinya tergelincir dalam kesalahan. Namun demikian, Nabi Adam menerima konsekuensi atas apa yang telah diperbuatnya, beliau sabar. Nabi Adam tidak mengadu atau mengeluh kepada Allah atas godaan syaitan. Meskipun Allah swt juga mengetahui bahwa kesalahan Nabi Adam tersebut adalah akibat provokasi syaitan, namun Nabi Adam tidak mencari kambing hitam atau bahkan dendam sepertinya halnya Iblis yang dendam kepada anak cucu Adam. Allah swt telah memberikan peringatan kepada anak cucu Adam tentang bujukan syaitan yang dapat menyesatkan mereka. Agar kisah nenek moyang manusia dapat menjadi hikmah dan pelajaran bagi manusia.

Itulah yang membedakan antara Iblis dengan Adam. Iblis dendam kepada anak cucu Adam karena kesalahan dia sendiri, namun Nabi Adam tidak dendam kepada siapapun meskipun dia telah digoda sehingga berbuat salah. Nabi Adam adalah orang yang profesional dan fair.

Maka mari kita bercermin kepada diri kita, sebenarnya sifat manakah yang kita ikuti? Sifat Iblis ataukah sifat Nabi Adam? Pastinya, sifat murni manusia adalah sifat yang dimiliki oleh Nabi Adam. Jika ada manusia yang memiliki sifat pembangkan, pemarah, pendendam, mencari kambing hitam, tidak mau mengakui kesalahan, banyak mengeluh/permintaan, maka sesungguhnya itu bukan sifat asli manusia melainkan sifat Iblis. Sifat-sifat demikian hendaknya segera dipadamkan sebelum terlambat sehingga dapat membakar seluruh sifat manusia yang murni.

Meskipun demikian, Iblis masih mengakui kebesaran dan kemuliaan Allah swt sehingga tidak dapat menggoda/membujuk anak cucu Adam yang Mukhlis (Ikhlas dalam beragama). Namun kita dapat menjumpai manusia-manusia yang lebih sombong dan angkuh dibandingkan dengan Iblis, yaitu mereka yang tidak mengakui kebesaran Allah swt dan berlaku congkak dimuka bumi ini. Manusia-manusia yang berlaku semenang-menang, kufur akan nikmat yang telah diberikan oleh Allah, mendustakan ayat-ayat Allah, dan enggan bertaubat, manusia yang demikian tentunya jauh lebih sesat dan hina dibandingkan dengan Iblis.

Wallahua’lam

 

Makassar, 03 Juli 2015

16.00 Wita

 

(*tulisan lama yang baru diposting*)

EMPAT TINGKATAN MERAIH RIZKI

EMPAT TINGKATAN MERAIH RIZKI

Terdapat empat tingakatan/tahapan dalam meraih rizki:

1. Rizki yang telah ditetapkan oleh Allah swt.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya.(QS 11:6)

Setiap makhluk telah dijamin rizkinya. Ini merupakan modal awal. Salah satu maknanya adalah bahwa manusia tidak boleh pesimis dengan rizki Allah karena telah dijamin unuk seluruh makhluk-Nya. Namun demikian, manusia hendaknya memiliki perbedaan dibandingkan dengan makhluk yang lain. Oleh karena itu, Islam mengajarkan untuk giat bekerja, profesional, dan mandiri. Menjauhkan diri dari sifat malas apalagi bergantung kepada orang lain.

2. Rizki karena profesional atas apa yang diusahakannya .

Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangannya. Maka mengapakah mereka tidak besyukur? (QS 36:34-35)

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (QS 62:39)

Setelah diberikan modal awal, maka harus diupayakan atau diusahakan agar bertambah. Dengan cara memperolehnya dengan bekerja secara profesional. Inilah yang membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya. Dengan bekerja, manusia mendapatkan sesuai yang diusahakannya. Tidak peduli apakah orang tersebut beriman atau tidak. Muslim atau kafir Jika dia profesional maka akan mendapatkan hasil yang setimpal. Perlu diingat bahwa sebagai muslim, kita tidak boleh kerja asal-asalan. Pekerjaan hendaknya diimbangi dengan ilmu. Harus ada inovasi. Seperti kata Buya HAMKA, “Kalo bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja”. Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim memiliki produktivitas yang tinggi sehingga dapat bermanfaat bagi lainnya.

3. Rizki karena sikap senantiasa bersyukur.

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari maka sesungguhnya Azab-Ku sangat pedih. (QS 14:7)

Setelah itu, bersyukurlah kepada Allah. Caranya dengan meningkatkan ibadah kepada-Nya. Baik ibadah maghdhah maupun muamalat. Kewajiban seperti shalat dan zakat jangan pernah ditinggalkan. Shadaqah dan infaq ditingkatkan. Dengan demikian nikmat yang telah Allah berikan dapat juga dirasakan manfaatnya oleh saudara-saudara kita. Maka nampaklah karunia dari Allah yang melimpah tersebut. Jangan ditahan apa yang telah menjadi kewajiban kita dan tunaikan hak atas orang yang berhak.

4. Rizki karena sifat/karakter sebagai pribadi yang bertakwa.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawwakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. (QS 65:2-3)

Ini merupakan tingkatan tertinggi. Dengan tahapan-tahapan sebelumnya dan disempurnakan dengan taqwa dan tawwakal, maka tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan baginya. Sepenuhnya yakin kepada Allah swt dalam setiap pekerjaan. Dia yakin bahwa rizki bukanlah mengenai harta atau uang semata. Dia senantiasa ingat kepada Allah dalam berdagang atau menjalankan profesinya sehingga dia enggan untuk mendekati usaha-usaha yang haram dan bathil. Apa yang diusahakannya senantiasa diperhatikan kualitasnya tidak hanya kuantitas yang dicari. Apa yang diusahakan haruslah bernilai tambah dan bermanfaat bagi orang lain. Segalanya dia lakukan dengan jujur. Integritas dan kompetensi dia pegang teguh dalam menjalankan profesinya. Dia senantiasa merasa cukup meski yang didapatkan bisa jadi lebih kecil daripada orang lain. Namun karena taqwa dan tawakalnya tersebut malah membuatnya menjadi berlebih.

Berbeda dengan orang yang tamak dan rakus. Tidak cukup diberi satu, maunya minta lagi dan tidak pernah merasa cukup. Sibuk sikut sana sikut sini untuk mendapatkan jabatan atau pangkat. Grusak grusuk mencari cara memperkaya diri namun akhirnya jatuh dalam kehinaan karena sifat tamaknya tersebut.

Mudah-mudahan kita senantiasa terpacu untuk dapat meraih tingkatan ke-empat dan dapat meninggalkan sifat-sifat rakus dan tamak dalam mencari rizki. Semoga Allah senantiasa memimbing dan memberkahi. Aamiin..

Makassar, 13 Ramadhan 1436/30 Juni 2015

16:32