Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain

Latest

Urgensi Peran Emak-emak

*Urgensi Peran Emak-emak*

_(tafsir terhadap Mars Aisyiah)_

Satu abad yang lalu, KHA Dahlan telah mewasiatkan kepada generasi penerusnya agar memperhatikan kaum perempuan. Perhatian beliau termanifestasikan melalui gerakan Aisyiah. Oleh karena itu, jangan pernah lelah untuk menyadarkan kewajiban suci yaitu membina harkat kaum wanita.

Mengapa perlu membina kaum wanita? Karena kaum wanita adalah tiang utama negara. Jika tiang ini retak, maka runtuhlah negara ini. Namun jika tiang ini kuat maka tegaklah negara ini.

Ditelapaknyalah terbentang surga. Oleh karenanya, muliakanlah ia. Hormat dan santunlah terhadap wanita, jangan rusak kehormatannya dan jangan kasar terhadapnya. Nasib bangsa ini ada ditangannya, maka berhati-hatilah terhadapnya. Ia bisa melemparkan bangsa ini ke jurang kehinaan atau bisa pula mengangkat bangsa ini ke atas kemuliaan.

Ketika kaum wanita telah disadarkan untuk membangun bangsa dan negara, maka ia akan mengkader anak2nya dengan baik. Berapa banyak kaum wanita yang rela meninggalkan peluangnya untuk mencari kehidupan dunia, dengan memilih mencurahkan waktunya untuk menyiapkan kader bangsa? Namun mengapakah tidak ada kepedulian atas pengorbanannya. Ia bisa saja bekerja mencari uang, namun ia lebih memilih untuk mendidik kader bangsa di rumahnya masing-masing.

Maka sudah saatnya kita, khususnyaumara, memberikan perhatian kepada emak-emak yang seperti itu. Emak-emak ini lebih memilih status sebagai “ibu rumah tangga” yang baik agar bisa mendidik anak-anaknya dengan sempurna, ditengah kondisi keterpurukan moral dan akhlak. Di sekolah masih ada bullying. Di luar rumah, masih didapat contoh2 dari orang dewasa yang jauh dari adab. Televisi tidak didapati figure yang baik. Maka satu2nya jalan adalah mempercayakan pengasuhan dan pendidikan kepada emak-emak yang terdidik ini.

Akhir kata, mari kita renungkan dalam-dalam lyric mar Asiyiah agar timbul kesadaran dan kebangkitan kita dalam membina kaum wanita.

Wahai Warga Aisyiyah Sejati
Sadarlah Akan Kewajiban Suci
Membina Harkat Kaum Wanita
Menjadi Tiang Utama Negara
Ditelapak Kakimu Terbentang Surga
Ditanganmu-Lah Nasib Bangsa
Mari Beramal Dan Berderma Bakti
Membangun Negara
Mencipta Masyarakat Islam Sejati
Penuh Karunia
Berkibarlah panji matari
Menghias langit ibu pertiwi
Itu lambang perjuangan kita
Dalam menyebarluaskan agama
Islam pedoman hidup wahyu illahi
Dasar kebahagiaan sejati

Wallahua’lam

M.A.H
Jakarta, 27/08/2018

73 Tahun yang Lalu

73 tahun yang lalu, Sabtu 18 Agustus 1945, diadakan Rapat Pleno Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Rapat tersebut mengagendakan: Pengesahan UUD dan Pemilihan Presiden & Wakil Presiden Republik Indonesia.

Rapat yang sedianya dilaksanakan pada pukul 9.30WIB terlambat sekitar dua jam menjadi 11.30WIB.

Apa sebabnya? Sebabnya adalah terjadi lobbying yang dilakukan oleh Moh Hatta dan Teuku Moh Hasan kepada Ki Bagus Hadikusumo, yang merupakan eksponen golongan Islam saat itu.

Apa yang yang hendak di lobby oleh Bung Hatta dan Mr. Moh Hasan? Lobby yang dilakukan adalah hendak digantikannya tujuh kata yang termaktub dalam piagam jakarta yaitu “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Mengapa 7 kata tersebut hendak diganti? Karena ada usulan atau permintaaan kalangan dari timur Indonesia yang disampaikan oleh opsir Jepang kepada Bung Hatta, karena merasa tidak hanya agama Islam yang ada di Indonesia. Guna menjaga persatuan, maka Bung Hatta mencoba membujuk Ki Bagus, karena Ki Baguslah yang masih bersikukuh tidak ingin menghapus tujuh kata tersebut.

Bung Hatta menyatakan bahwa “Ketuhanan Yang Maha Esa” itu adalah sesuai dengan prinsip Islam yaitu Tauhid. Ketika Ki Bagus berhasil diyakinkan bahwa itu adalah Tauhid, maka Ki Bagus setuju.

Baru 1 hari Indonesia merdeka, ternyata ada saja kelompok yang ingin negara ini pecah kemudian melakukan ancaman dengan meminta penghapusan 7 kata dalam piagam Jakarta.

Maka kita bisa mengerti, bahwa UUD’45 dan Pancasila yang kita kenal sekarang ini dilahirkan oleh pejuang Islam. Tanpa ada persetujuan, pengorbanan, dan kelegowoan dari golongan Islam, negara ini tidak akan tegak.

Ajaran Islam mengajarkan tegaknya persatuan, oleh karena itu para pejuang kita telah rela berkorban lahir batin untuk tegaknya bangsa ini, maka kita wajib menjaganya.

Wallahua’lam

Bogor

Sabtu, 18 Agustus 2018

Hati-hati dengan Tipu Daya

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ ٱلْيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُم بَعْدَ ٱلَّذِى جَآءَكَ مِنَ ٱلْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّ وَلَا نَصِيرٍ ﴿١٢٠﴾

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”

(Q.S.2:120)

===
Ayat diatas telah termaktub di dalam Al Quran sejak pertama kali diturunkan dan tidak akan pernah dapat dihapus hingga kelak hari kiamat. Al Quran secara tegas telah menginformasikan kepada kita, orang beriman, bahwa ada segolongan kaum yaitu yahudi dan nashrani yang tidak akan pernah ridha, tidak akan pernah rela hingga orang beriman mau mengikuti mereka. Mereka ingin agar orang beriman, mau berperilaku seperti mereka, bergaya hidup seperti mereka, berkeyakinan seperti mereka, bermilah seperti milah mereka, bahkan terframing oleh framing mereka, terperdaya oleh tipu daya mereka.

Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan segala tipu daya mereka itu. Dengan cara apa kita berhati-hati? Yaitu dengan cara mengikuti petunjuk yang telah Allah turunkan. Allah akan menolong orang-orang beriman melalui petunjuknya, melalui wahyu Al Quran dan tuntunan Rasulullah. Maka berhati-hatilah, jika petunjuk itu telah datang namun masih saja ada yang justru mengikuti keinginan mereka, ingin dipuji oleh mereka, ingin mendapatkan penghargaan oleh mereka, maka Allah tidak akan memberikan perlindungan dan peetolongan.

Wallahua’lam

27 Ramadhan 1439