Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain

Latest

Mules dan Kantuk sebagai Early Warning System 

Perlu kita sadari, jasad yang ada pada diri kita yang telah diciptakan oleh Allah sungguh sempurna. Allah telah melengkapi tubuh kita ini dengan early warning system agar kita dapat mengambil suatu keputusan yang menyelamatkan diri kita. Diantaranya yang sangat sederhana dan sering kita alami, yaitu mules dan mengantuk.

Orang yang merasakan perutnya mules, itu menjadi suatu peringatan awal bahwa dia harus segera ke toilet. Bayangkan saja jika kita tidak bisa merasakan mules. Kita sedang mengadakan meeting penting atau sebagai nara sumber di depan audiens bahkan ketika sedang belanja di pasar/mall yang banyak orang, tiba2 karena tidak memiliki rasa mules maka keluarlah “itu” tanpa peringatan awal. Tentu kita akan sangat malu. Kehormatan manusia hancur seketika karena peristiwa tersebut, luluh lantak. Bahkan bisa depresi jika mengingatnya. Oleh karena itu jangan remehkan rasa mules, itu adalah anugerah dari Allah yang telah tersistem dalam tubuh manusia.

Kemudian ada juga early warning dalam bentuk mengantuk. Orang yang mengantuk tandanya dia butuh istirahat dan tidur. Bayangkan jika manusia tidak memiliki rasa kantuk, ketika sedang berkendara tiba-tiba langsung tertidur tanpa melalui tahapan mengantuk. Tentu sangat berbahaya, baik diri sendiri maupun bagi orang lain. Bahkan ketika di event2 yang menghadirkan banyak orang, semisal menjadi nara sumber di depan audiens tentu sangat tidak sopan jika tiba2 tertidur saat berpidato. Oleh karena itu, rasa kantuk juga merupakan anugerah dari Allah sebagi suatu sistem dalam tubuh yang tidak bisa diremehkan.

Dari  dua hal yang sederhana di atas yang kadang disepelekan oleh kita, semoga dapat menjadi bahan renungan dan pemikiran akan kebesaran dan keagungan Allah. Setidaknya dengan memahami early warning, kita dapat melakukan mitigasi risiko, membantu kita untuk membuat keputusan yang tepat. Jika kita abai akan tanda-tanda tersebut, maka risiko, kecelakaan atau malapetaka dapat menimpa diri kita.

“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

(Q.S.95:4)

Wallahua’lam

Advertisements

H. Fachrodin

*Sekilas H. Fachrodin*
Ketika kita mendengar organisasi besar di “Zaman Bergerak” yaitu Sarekat Islam, maka kita akan teringat tokoh2 seperti H.O.S Tjokroaminoto, H. Agus Salim, H. Samanhoedi, R.M Tirto Adhi Surjo. Namun ada satu tokoh yang juga berpengaruh namun jarang dikenal namanya, yaitu H. Fachrodin, yg pernah menjadi bendahara dan comisaris CSI (Centraal Sarekat Islam). Seorang mubaligh, penulis, jurnalis, orator, dan pengusaha sukses.
Menurut penelitian, Haji Fachrodin lahir pada tahun 1890. Diusia yang masih relatif sangat muda, 15 tahun, ia sudah menjadi seorang pengusaha batik  sukses. Diusia itu pula ia berangkat menunaikan haji ke tanah suci dan belajar agama Islam di sana selama 2 tahun. Di usia 24 tahun sudah menjadi seorang penulis tetap di surat kabar ternama dan terkenal revolusioner, yaitu Doenia Bergerak, bersama Mas Marco.
Di usia 25 atau pada tahun 1915, ia terlibat dalam penerbitan surat kabar Medan Moeslimin dan Suara Muhammadiyah (majalah Islam tertua yg masih bertahan hingga saat ini).
Meskipun terlahir dari keturunan ningrat, ia sangat menentang feodalisme dan menjunjung egaliterisme. Selain sebagai pengusaha batik, ia pun merupakan pemilik hotel yang diberi nama Hotel Islam dengan motto “Untuk Segala Bangsa”. Motto yang mengandung semangat persamaan derajat, karena dapat difahami saat itu golongan kulit putih/penjajah dianggap sbg golongan elite sehingga hotel tersebut bisa digunakan oleh setiap golongan tanpa pandang warna kulit.
Haji Fachrodin juga merupakan salah satu perintis pembaharuan dalam bidang zakat. Tentunya tidak dapat disamakan penerapan zakat di zaman sekarang dengan zaman lalu. Saat itu orang berzakat ke kiyai. Haji Fachrodin kala itu menggalang dana zakat dari hartawan tanpa merendahkan diri. Karena ia berprinsip bahwa zakat itu kewajiban, jadi amil itu membantu. Ribuan gulden dapat dikumpulkan saat itu. Nilai yg fantastis dizamannya. Kuncinya adalah transparansi dan pencatatan.
Selain sebagai perintis pembaharuan zakat, ia juga melakukan penelitian dalam pelaksanaan haji pada tahun 1921 atau diusianya ke-31. Ini adalah keberangkatan haji ke-2. Saat itu kondisi jamaah haji cukup memprihatinkan sehingga perlu dilakukan perbaikan.

Diusianya yang ke-30 tahun atau pada tahun 1920, ia mendapatkan amanah sebagai ketua bidang tabligh HB (sekarang PP) Muhammadiyah. Dan ditahun 1922 atau 10 tahun sejak berdirinya, dakwah Muhammadiyah mulai berkembang pesat di luar pulau Jawa. 
Haji Fachrodin adalah orator ulung dan penulis handal. Ahli berpidato. Jika sudah menulis “tajam penanya”. Memiliki kemauan yang teguh. Diantara quotenya adalah

“Koeatnja kemaoean (quewwatoel irodah) itoe djika bertegoeh pada diri sendiri. Sebaliknja poela, lembeknja kemaoean itoe, djika bertegoeh kepada diri orang lain.”

M.A.H

Bogor, 26 April 2018

==

Daftar pustaka

Mu’arif. Benteng Muhammadiyah. Yogyakarta, Suara Muhammadiyah, 2010.

Hampir Makmum kepada Orang Gila

​Hampir Makmum kepada Orang Gila
Pada waktu di Talang Balai, Tanjung Raja Palembang, suatu hari pernah dalam suatu mushala orang2 sudah siap utk melaksanakan shalat maghrib. Pada saat itu Pak AR dipersilakan utk mjd imam. Karena masih muda, dan di situ sudah ada imam rawatibnya (imam rutin), Pak AR tidak bersedia dan mempersilakan imam rawatib utk memimpin mjd imam. Tetapi sang imam tetap mengharap Pak AR yg mjd imam. Ketika sdh terjadi slg mempersilakan, majulah seseorang memposisikan diri utk mjd imam. Orang2 disekitarnya tentu saja terkejut dan segera menarik orang itu ke belakang, karena orang yg maju itu adala orang yg “kurang lengkap” (kurang waras). Melihat hal itu, akhirnya majulah Pak AR mengimami shalat itu. Komentar para jamaah, hampir saja kita makmum pada orang gila.

HIKMAH

Hendaknya umat Islam jangan berebut menjadi pimpinan, tetapi kalau diminta jk merasa mampu harus bersedia. Karena jk orang2 yg mampu tidak bersedia mjd imam atau pemimpin, pada akhirnya yg maju adalah orang2 yg tidak beres. Akibatnya kampung, negeri, organisasi itu akan rusak krn dipimpin oleh orang2 yg tidak beres.

Sumber:

Buku Perikehidupan, Pengabdian, dan Pemikiran AR Fachruddin dalam Muhammadiyah; 2000; Pustaka SM